Minggu, 29 Mei 2011

Emerging Markets

Sejumlah ekonomi Asia telah mengumumkan data ekonomi makro triwulan pertama. Hasilnya, ekonomi kelompok emerging markets Asia tetap berkembang pesat, walaupun mendapat pengaruh ketidakmenentuan sejumlah faktor internal dan eksternal. Analis United Overseas Bank dari Singapura, Jimmy Koh menyatakan, "Emerging markets di Asia sangat sempurna, mendapat penilaian positif dari investor global dalam jangka pendek dan menengah."
Karena berbagai negara di Asia terus mengambil langkah pengetatan untuk mengontrol inflasi, maka para analis rata-rata memprediksikan ekonomi Asia tahun 2011 akan melamban pada tingkat tertentu. Ekonomi Jepang yang dihantam gempa bumi dan tsunami Maret lalu, dalam tiga bulan pertama tahun ini merosot 3,7 persen, dan semakin terperosok dalam resesi. Sedangkan ekonomi di negara dan daerah lainnya di Asia berkembang pesat, misalnya GDP triwulan pertama Tiongkok dan Korea Selatan masing-masing meningkat 9,7 persen dan 4,2 persen, tetapi peningakannya masih lebih kecil dibanding triwulan keempat tahun lalu.
Ekonomi Singapura meningkat 14,5 persen tahun lalu, nomor satu di Asia. Pada triwulan pertama tahun ini, ekonominya meningkat 8,3 persen, lebih tinggi daripada prediksi semula. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura meningkatkan prediksi pertumbuhan dari 4-6 persen menjadi 5-7 persen. Ekonomi Indonesia pada kuarter pertama tahun ini meningkat 6,5 persen. Thailand dan Malaysia juga mewujudkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen.
Menurut data-data tersebut, dasar pemulihan ekonomi Asia telah semakin mantap. Komisi Ekonomi dan Sosial Asia-Pasifik PBB awal bulan ini mengatakan, negara-negara berkembang di kawasan Asia-Pasifik tetap merupakan motor penggerak ekonomi global. Mereka meramalkan tingkat pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik tahun ini akan mencapai 7,3 persen.
Wakil Sektretaris Jenderal PBB menyatakan, kawasan Asia-Pasifik menghadapi peluang monumental dalam restrukturisasi ekonomi. Untuk mempertahankan dinamika ekonomi dalan jangka menengah dan panjang, kawasan Asia Pasifik perlu menciptakan tuntutan konsumsi dan investasi yang lebih besar, untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor. Selain itu, masih ada lebih dari 950 juta penduduk di kawasan Asia-Pasifik yang hidup di bawah garis US$ 1.25 per hari. Karena itu, pemerintah berbagai negara harus menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, memperluas lingkup jaminan sosial, mendorong perkembangan pertanian dan kawasan pedesaan, demi menanggulangi kemiskinan.
Iinflasi dewasa ini telah menjadi salah satu tantangan terbesar di kawasan Asia. Bank-bank sentral berbagai negara melaksanakan kebijakan pengetatan, berulang kali meningkatkan suku bunga, menyedot kelebihan dana bergerak atau mengizinkan penguatan mata uang, demi mengurangi tekanan inflasi karena impor. Langkah-langkah tersebut telah mencapai hasil pada tingkat awal. Tekanan kenaikan harga di sejumlah negara juga cenderung melemah, tetapi inflasi masih belum sepenuhnya terkendali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar